Jelajah Kata

Ayu Utami

Bilangan Fu

Sebuah kenikmatan tak bisa di bagi kan, tidak bisa dibagikan dengan kata-kata atau cerita, kata-kata hanya menyesatkan dan mengangkat perjalanan ke permukaan sebagai sekedar sensasi yang banal dan kurang senonoh, kenikmatan hanya bisa datang dalam diam dan lidah kelu para martir/saksi.

Ayu Utami

Bilangan Fu

Mimpi adalah mekanisme nan menakjubkan. Ia danau tak berdasar, kita menyelam disana, melihat dań mengerti segala sesuatu dalam dimensi berbeda, terasa gembira atau sedih karena pengetahuan itu, lalu ketika kita muncul di permukaan lagi, kita tidak bisa lagi mengerti apa yang telah kita lihat, tapi masih bisa merasakan sesuatu akibat pengertian yang telah hilang, kita masih mengalami akibatnya tapi kita kehilangan alasannya dań mengalami trauma.

Maulana Rumi

Matsnawi Maknawi kitab I, bait 117&119

Imajinasi

Imajinasi tak menampakan diri, Imajinasi ada dan tak ada, Imajinasi indah pantulan cahaya ilahi

Maulana Rumi

Matsnawi Maknawi kita I, bait 141

Matahari adalah jiwa keabadian, membara setiap saat bercahaya, tidak ada dahulu dan esok kala.

Karlina Supelli

Cipta, Rasa dan Karsa

Sastra bisa mengolah batin, dalam proses menulis mencari metafor dan sains, dapat di temukan dalam sastra. Dan bahkan emosi bisa juga di didik melalui sastra atau seni. Seni adalah pilar kebudayaan, dan kebudayaan adalah cara kita berpikir, cara kita bertindak dań cara kita merasa, jangan seni di artikan sempit dalam bentuk pertunjukan.

Sindhunata

Anak Bajang Mengayun Bulan

Tetes-tetes air mata itu ternyata adalah bahasa bagi kerinduan yang selama ini membisu.  Demikian dahsyat bahasa kerinduan itu ketika air mata cinta telah menetesinya.  Biarlah kerinduan itu sendiri yang bercerita, kerinduan itu jauh lebih jujur dan kaya dalam bekata-kata.

Karlina Supelli

Cipta, Rasa dan Karsa

Filsafat juga mengajarkan Logika.  Filsafat itu mengajarkan logika berpikir dengan sangat cermat, sehingga bahkan membaca satu kalimat saja, kita sudah bisa mengenali arti yang tidak benar dalam kalimatnya.

Sindhunata

Anak Bajang Mengayun Bulan

Kegelapan itu telah menjadi cahaya bagi nafsu, dan mereka tak ingin lagi kehilangan waktu.  Mereka membiarkan terbang tinggi sampai di angkasa nafsu yang paling tepi, sambil merasakan betapa nikmat dan indahnya rasa berahi.  Berahi mereka menyentuh awan persembunyian bulan. Bulan seperti sedang menyingkapkan selimut tebalnya, maka terkuaklah cahayanya perlahan-lahan.  Makin lama makin terang, seakan bulan pun tiada dapat menahan sabar untuk ikut mengintip dua insan yang sedang dalam puncak keindahan berahinya.